Dalam hal pengiriman surat dengan isi yang sama seperti surat undangan,surat penawaran,dan lain-lain kepada orang,diperlukan cara cepat untuk menerjakannya.Jika surat dibuat satu persatu,tentu ini akan merepotkan.Dalam Word terdapat fasilitas cetak gabung (mail merge) untuk membuat beberapa surat dengan cepat.
Langkah-langkah untuk menggunakan fasilitas mal merge adalah sebagai berikut.
Untuk menggunakan fasilitas cetak gabung,terlebih dahulu harus di buat dua file,yaitu dokumen utama(main document)dansumber data(data source).Dokumen utama berisi data-data yg akan digabungkan ke surat(misalnya namanya dan alamat yang dituju).
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Musim pertama:The Shinigami Cerita ini dimulai dengan kehidupan seorang siswa SMA bernama Ichigo Kurosaki di Kota Karakura yang bisa melihat roh. Pada awalnya Ichigo hanya dapat melihat roh biasa dari orang yang sudah meninggal, namun hal itu berubah ketika suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita berpakaian kimono hitam di kamarnya. Wanita tersebut merupakan Shinigami yang bernama Rukia Kuchiki. Kedatangannya disebabkan oleh kekuatan spiritual seekor Hollow, sebuah roh yang jahat. Hollow yang dimaksud tiba-tiba datang dan menyerang keluarga Ichigo karena merasakan kekuatan spiritual Ichigo yang besar. Ichigo kemudian terlibat dalam perkelahian dengan Hollow yang telah melukai keluarganya, walaupun Rukia yang seharusnya melawan Hollow tersebut sudah melarang Ichigo sebelumnya. Karena ketidakmampuan Ichigo untuk mengalahkan Hollow tersebut, akibatnya Rukia terluka parah ketika mencoba menolong Ichigo. Untuk mengalahkan Hollow itu hanya ada satu cara; yaitu dengan meminjamkan sebagian kekuatan Shinigami milik Rukia ke Ichigo. Sayangnya dalam proses tersebut terjadi ketidaksengajaan, Ichigo mengambil semua kekuatan spiritual Rukia dan membuatnya kehilangan kekuatan Shinigami. Akibatnya, Ichigo kemudian menjelma sebagai orang Shinigami dan mengalahkan Hollow tersebut.
Hari berikutnya, Rukia muncul di kelas Ichigo sebagai murid pindahan. Apalagi, kali ini Rukia terlihat seperti manusia biasa dan bisa dilihat oleh teman sekelasnya. Rukia memberitahu Ichigo bahwa kekuatan yang ajaib pada roh Ichigo-lah yang membuatnya mampu menyerap seluruh kekuatannya daripada hanya setengahnya, dan membuatnya harus berpidah ke dalam Gigai, tubuh manusia tiruan. Sementara menunggu kekuatan Shinigaminya pulih kembali, Rukia kemudian memutuskan untuk tinggal sementara di dunia manusia. Ichigo harus menggantikan pekerjaannya menjaga kota Karakura, melawan Hollow, dan membawa roh yang bergentayangan di dunia manusia menuju Soul Society.
Musim kedua: The Soulsociety Setelah sekitar dua bulan,akhirnya dua pengejar dari Soul Society datang kedunia manusia untuk membawa kembali Rukia,yang akan dieksekusi.Karena Rukia telah memberikan kekuatan Shinigaminya yang merupakan kejahatan kelas satu dan karena ia terlalu lama tinggal di dunia manusia. Kedua pengejar adalah Renji Abarai-teman masa kecil Rukia- dan Byakuya Kuchiki,yang tak lain adalah kakak Rukia. Ishida yang pada saat itu keluar tidak sengaja melihat Rukia sedang dikejar oleh Byakuya dan Renji berusaha menolong Rukia akan tetapi oleh byakuya dikalahkan dalam sekejap.dan tak lama setelah itu ichigo datang untuk menolong rukia dan saat ichigo hampir berhasil mengalahkan renji pedang ichigo patah dan akhirnya byakuya menghabisi ichigo dan menghilangkan kekuatan shinigami nya dan rukia pun meninggalkan ichigo di tengah hujan.Ichigo yang tersadar akhirnya memutuskan untuk berlatih mengembalikan kekuatannya bersama urahara di tempat rahasia di dalam toko.inoue,chad,dan ishida pun juga ikut berlatih bersama yoruichi.tak lama setelah itu akhirnya mereka berangkat menuju soul society di dalam soul society mereka menghadapi berbagai musuh dan akhirnya ichigo berhasil bertemu rukia walau hanya sesaat.Pada saat ichigo bertemu rukia,byakuya pun datang dan berusaha menghancurkan ichigo, untung pada saat itu yoruichi datang dan menolong ichigo dan membawa ichigo pergi untuk dilatih BAN KAI oleh yoruichi.
Setelah Ichigo menyelamatkan Rukia dalam Soul Society:The Rescue,di animenya dilanjutkan dengan Bount saga,Vaizard dan Arrancar.sedangkan di manganya yang berupa cerita aslinya,langsung cerita tentang Vaizard dan Arrancar hingga sekarang sedang dilanjutkan dengan pertempuran yang akan dilanjutkan di kota Karakura(Karakura Chou)
[sunting] Karakter Bleach
-
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Karakter dalam Bleach (manga)
- Ichigo Kurosaki (黒崎 一護 Kurosaki Ichigo?)
- Karakter utama serial Bleach. Murid SMA kelas satu berambut oranye ini dipaksa untuk menjadi pengganti shinigami (dewa kematian) setelah dengan tidak sengaja menyerap seluruh kekuatan Rukia Kuchiki. Perangainya yang sinis pada awalnya membuatnya ogah-ogahan menjalani pekerjaan barunya ini, tapi seiring berjalannya waktu, ia rela menerima jabatannya ini. Ia juga menyadari bahwa walaupun ia tidak mampu menyelamatkan semua orang, tetapi paling tidak ia dapat menggunakan kemampuannya untuk melindungi orang-orang yang dekat di hatinya. Kemudian dalam cerita, setelah ia kehilangan kekuatannya sebagai pengganti dewa kematian, ia memilih untuk mengambil resiko maut demi menjadi shinigami sepenuhnya.
- Rukia Kuchiki (朽木 ルキア Kuchiki Rukia?)
- Rukia Kuchiki adalah seorang shinigami yang dikirim untuk membasmi hollow di daerah perumahan Ichigo Kurosaki. Walaupun dari luar ia kelihatan seperti remaja perempuan, sebenarnya ia berusia lebih dari 100 tahun. Rukia terpaksa harus memindahkan kekuatannya kepada Ichigo dan untuk sementara menjadi manusia biasa. Ia mendaftarkan diri ke SMA dimana Ichigo bersekolah, dan tinggal di lemari Ichigo sementara ia mengajari Ichigo bagaimana menjadi pengganti shinigami.
- Orihime Inoue (井上 織姫 Inoue Orihime?)
- Orihime Inoue adalah teman sekelas Ichigo, yang karena ia juga berteman dengan Tatsuki Arisawa yang dekat dengan Ichigo, iapun menjadi dekat dengan Ichigo. Secara teknis, Orihime adalah seorang yatim-piatu, karena ia bersama kakak laki-lakinya, Sora, kabur dari rumah mereka karena orang tua mereka yang kejam. Beberapa waktu setelah itu, kakaknya pun meninggal dunia. Pada awalnya, Orihime tidak memiliki kekuatan spiritual apapun, namun lama kelamaan ia jadi memiliki salah satu kekuatan penyembuhan terkuat di dunia Bleach. Ia mampu menyembuhkan tubuh yang terluka kembali kepada keadaan semula, walaupun terluka sangat parah sekalipun.
- Yasutora “Chad” Sado (茶渡 泰虎 Sado Yasutora?)
- Yasutora Sado, atau lebih dikenal sebagai “Chad”, adalah salah satu dari segelintir teman-teman Ichigo di sekolah. Ia adalah pelajar Jepang berdarah Meksiko yang bertubuh sangat tinggi dibanding teman-teman sekelasnya. Walaupun secara fisik ia terlihat mengintimidasikan, ia sangat lembut dan penurut, dan menolak untuk berkelahi kecuali demi membela seseorang. Pada awalnya, ia tidak mampu melihat atau merasakan kehadiran arwah, namun sewaktu ia melihat sekelompok anak-anak diserang sebuah hollow, ia mendapatkan kekuatan unik dimana berkat kekuatan itu, tangan kanannya menjadi kuat dan terselubungi baja. Dengan demikian, ia mampu mengalahkan para hollow.
- Kisuke Urahara (浦原 喜助 Urahara Kisuke?)
- Pria misterius dan periang pemilik Toko Urahara, sebuah toko permen yang juga menjual barang-barang supernatural untuk kebutuhan shinigami. Walaupun memiliki sifat ceria dan optimis, ia adalah salah satu tokoh terpenting dalam dunia Bleach karena pengetahuannya yang amat luas tentang dunia spiritual, pengetahuan yang ia gunakan untuk mengatur rencana para tokoh-tokoh utama dalam cerita ini. Belakangan diketahui bahwa Urahara adalah mantan shinigami dari Soul Society.
- Uryū Ishida (石田 雨竜 Ishida Uryū?)
- Sekilas, Uryu Ishida nampak hanya seperti murid jenius yang suka menyendiri. Namun, Uryu adalah seorang Quincy, yaitu keturunan dari kaum imam pemanah pembasmi hollow. Ia menaruh dendam terhadap semua shinigami, termasuk Ichigo Kurosaki, namun seiring berjalannya cerita, pandangannya terhadap Ichigo berubah, dan bukannya menjadi musuh, ia menjadi kawan sekaligus saingan Ichigo.
- Kuchiki Byakuya (Byakuya Kuchiki?)
- Seorang kapten pendiam dari divisi ke – 6. Nama zanpakutonya adalah Zenbonsakura dimana ketika ia melepas jurus dari zanpakutonya akan muncul bunga sakura. Ia sangat mencintai istrinya, Kuchiki Hisana. Namun istrinya sudah meninggal. Karena itu ia mengangkat Kuchiki Rukia yang merupakan adik dari Hisana ke dalam keluarga Kuchiki. Byakuya sangat menyayangi Rukia dan sebenarnya tidak tega waktu Rukia akan di eksekusi.
- Renji Abarai (阿散井 恋次 Abarai Renji?)
- Renji Abarai adalah seorang shinigami kelas atas yang memiliki jabatan sebagai wakil kapten divisi ke-6. Ini berarti ia adalah orang berpangkat tertinggi kedua dalam divisi pasukan shinigami tersebut. Pada awalnya, ia diperkenalkan sebagai musuh yang mematikan, dan memiliki konflik batin diantara kesetiaannya terhadap jabatannya dan persahabatannya dengan Rukia, teman sepermainannya sejak kecil. Ia adalah seseorang yang lancang dan bersemangat, dan sangat menghormati sekaligus membenci atasannya, kapten divisi ke-6 Byakuya KuchikiKagehime’s Note: Fanfcit Bleach pertamaku. Maaf banget kalo ceritanya membosankan dan gak jelas. Gimanapun juga aku mau bikin fict UlqiXOri… mereka cocok banget… dan sejujurnya aku lebih suka Orihime jadi anak buah Aizen. Hehe. Walau agak ancur, enjoii please… en tolong review nya. Tenkiiu all ).Disclaimer: Bleach dan semua tokohnya bukan punyaku!!
Pairings: UlquiorraXOrihime
Summary: Ketika Orihime menemukan seseorang yang mulai saat itu akan melindunginya, ia membuat keputusan besar ditemani bulan sabit yang bersinar di langit Las Noches.
xxxxx
Gadis itu berdiri menatap langit gelap yang terlihat dari kisi–kisi jeruji jendela kamarnya.
Orihime menghela nafas. Rutinitas seperti ini sudah biasa untuknya. Ia bahkan tak tahu sudah berapa lama ia berdiri terpaku menatap langit seperti itu. Sebab seperti biasa, tak ada yang menyadari perubahan waktu diLas Noches, karena langit senantiasa gelap dan dipenuhi badai pasir.
Sejak Ichigo dan yang lainnya gagal menyelamatkannya, Orihime lebih banyak termenung sendiri seperti ini. Meski begitu, Orihime bersyukur atas fakta bahwa mereka tak sampai kehilangan nyawa akibat usaha menyelamatkan dirinya dari cengkraman Aizen. Ya, sekarang yang paling penting, ia harus tetap disini dan melakukan hal yang terbaik selama teman-temannya dan Soul Society mempersiapkan diri untuk pertarungan besar melawan Aizen. Itulah yang dipikirkan Orihime.
Seketika pikiran Orihime terhenti, suara ketukan terdengar di pintu. Ia melirik sedikit sebelum mengeluarkan suara.
“Masuklah,” ucapnya pelan.
Pintu terbuka, Arrancar bermata hijau terlihat melangkah pelan dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Quatro Espada itu.
“Aku baik seperti biasanya. Bukankah kau sudah menanyakan hal itu padaku beberapa jam yang lalu?” sahut Orihime.
“Bagaimanapun juga, aku harus terus mengawasi keadaanmu sampai saatnya Aizen-sama membutuhkanmu,”
“Aku mengerti,”
Hening sejenak. Orihime tetap memandang langit gelap, berdiri membelakangi Ulquiorra yang sedang menatapnya.
“Apakah kau menyesalinya?” tanya Ulquiorra tiba-tiba.
“Eh?” Orihime membalikkan badan, memandang tak mengerti pada Arrancar dihadapannya.
“Apa kau menyesali fakta bahwa kau masih ada disini? – bahwa usaha teman-temanmu untuk menyelamatkanmu telah gagal?” Ulquiorra menatap lurus pada Orihime, dan cukup menyadari bahwa gadis itu sedikit tersentak kaget atas pertanyaannya.
“Tentu saja tidak,” jawab Orihime kemudian.
Sejujurnya, pertanyaan Ulquiorra telah menusuk ke dalam hati Orihime. Namun, ia menyadari bahwa bukan saatnya untuk memikirkan hal itu. Ia tetap harus fokus untuk mendapatkan kepercayaan Aizen, dan Ulquiorra tentunya.
“Kau tak bisa berbohong di hadapanku, Hime.”
Orihime menahan nafas sejanak. Ia lalu buru-buru memalingkan wajahnya kembali menghadap jeruji jendela yang menghadirkan pemangandangan berupa badai pasir yang menghiasi langit gelap.
Namun, saat itu ia merasakan pipinya memerah. Ulquiorra, Arrancaryang telah membawanya ke istana putih ini, untuk pertama kalinya memanggilnya “Hime”. Padahal biasanya ia memanggilnya dengan “Onna (woman)” atau “Inoue Orihime” secara lengkap. Terdengar begitu aneh mendengar namanya disebut dengan suara milik Ulquiorra. Ia tak mengerti dengan perasaannya saat itu. Dengan terbata, ia mencoba membalas perkataan Ulquiorra.
“A-aku tak bohong. Satu-satunya yang membuatku menyesal adalah … bahwa mereka sudah terluka parah karena berusaha menyelamatkanku,”
Ulquiorra teridam. Ia menatap heran gadis berambut oranye dihadapannya. Gadis itu adalah gadis yang sangat berkemauan keras, ia mengakui hal itu. Tapi baru kali ini ia mendengar gadis itu menjawab terbata-bata, apalagi dengan pertanyaan sepenting itu, sungguh tak biasa.
Ulquiorra berjalan mendekati Orihime. Orihime dapat mendengar dengan jelas langkah kaki di belakangnya, dan tanpa sadar ia mendekap kedua tangannya di depan dada, merasakan bahwa jantungnya entah kenapa berdebar.
“Ada apa denganmu?” Ulquiorra bertanya sambil menempatkan satu tangannya di bahu gadis itu.
Orihime seketika menahan nafas, tubuhnya bergetar pelan, dan perlahan ia membalikkan tubuhnya, menundukkan kepala sambil berusaha menatap Ulquiorra yang kini berdiri tepat di hadapannya.
“A-aku tak apa-apa.” Sahut Orihime pelan, masih menundukkan wajahnya.
Ulquiorra menatap tak mengerti. Ia melihat jelas gadis itu menyembunyikan sesuatu. Ia belum pernah melihatnya bersikap begitu lemah seperti sekarang. Apakah ia berbohong? Sepertinya tidak mungkin. Aneh sekali jika ia menunjukkan sejelas ini bahwa ia berbohong, hal ini tak sesuai dengan kepribadiannya.
“Ada yang aneh dengan dirimu.” Ucap Ulquiorra sambil menjangkaukan tangannya dan menyentuhkannya ke dagu Orihime untuk mengangkat kepala gadis itu. Ia ingin melihat ekspresi apa yang digambarkan gadis itu di wajahnya.
Orihime tak bisa menjawab. Ia reflek memejamkan matanya. Membiarkan kepalanya terangkat oleh sentuhan tangan Ulquiorra di dagunya.
Ulquiorra menatap wajah gadis di depannya. Mata gadis itu terpejam erat, dan pipi gadis itu terlihat berwarna merah muda. Ia tak mengerti. Ada apa dengan gadis yang selalu ia awasi setiap waktu atas perintah Aizen itu.
Untuk berapa lama, keadaan hening, Orihime mencoba membuka matanya perlahan, walau jantungnya masih berdebar keras. Untuk mendapati Ulquiorra sedang menatap lurus padanya.
“Apa kau sakit?” tanya Ulquiorra datar.
“Ti-tidak! A-aku sehat. Sungguh.” Jawab Orihime gugup.
Ulquiorra perlahan menurunkan tangannya dari wajah gadis itu.
“Aku akan memanggil bagian medis. Bagaimanapun kau penting sekali bagi Aizen-sama, aku tak mau mengambil resiko.” Ujar Ulquiorra sambil membalikkan badan dan melangkah pelan mendekati pintu.
“Ja-jangan! A-aku baik-baik saja. Sungguh!!” sahut Orihime keras.
Ulquiorra terhenti, melirik sebentar ke gadis di belakangnya, dan memutuskan bahwa ia benar-benar harus memanggil seseorang untuk memeriksa gadis yang pipinya terlihat berwarna merah muda itu. Kemudian ia melanjutkan langkahnya.
Baru beberapa langkah ke depan ketika ia merasakan gadis itu melingkarkan kedua tangan kecilnya ke tubuhnya. Langkah Ulquiorra seketika terhenti.
“Aku bilang tidak perlu! Kumohon. Aku tidak apa-apa. Kau harus percaya padaku.” Orihime berbicara keras dari belakang punggung Ulquiorra.
“Baiklah. Sekarang lepaskan aku.” Jawab Ulquiorra.
Orihime melepaskan tangannya. Ulquiorra mebalikkan tubuh, menatap gadis yang kini menatap lurus padanya. Sejenak ia merasa aneh. Ia baru kali ini melihat gadis itu begitu… cantik.
Ulquiorra memalingkan wajahnya sedikit, merasakan getaran aneh dalam dirinya. “A-apa kau yakin kau tidak sakit?” tanya Arrancar itu sedikit terbata.
Orihime menatap tak percaya. Ia berani bersumpah melihat pipi laki-laki di hadapannya memerah sejenak. Ia sendiri tahu persis bahwa keadaannya tak jauh berbeda dengan beberapa saat lalu: pipi memerah, dan jantung berdebar.
“Aku yakin.” Jawab Orihime singkat.
Keadaan menjadi begitu hening. Ulquiorra masih menatap ke arah tembok putih di sampingnya, sementara Orihime menarik nafas singkat dan kembali melangkah untuk menatap pemandangan di jendela kamarnya. Ulquiorra lalu menatap punggung gadis itu.
Ulquiorra tak henti-hentinya bertanya dalam hati, ada apa dengan dirinya? Ia tak pernah merasa seaneh ini sebelumnya.
Waktu bergulir, keadaan tetap hening. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka. Namun keduanya kini sudah kembali tenang, dengan keadaan seperti biasa.
“Ulquiorra-san,” panggil Orihime pelan, memecah kesunyian di antara mereka. Ia kini sudah kembali tenang, pikirannya melayang kembali ke teman-temannya.
“Apa?” jawab Ulquiorra.
“Sampai kapan aku akan berada disini?” tanya Orihime tanpa membalikkan tubuhnya.
Ulquiorra terdiam sejenak sebelum menjawab, “Sampai Aizen-sama memanggilmu untuk membantunya.”
“Bukan itu maksudku.”
“Lalu?”
Orihime membailkkan tubuhnya perlahan. Ulquiorra melihatnya, ekspresi datar gadis di hadapannya. Ia menatap lurus ke wajahnya.
“Sampai kapan aku menjadi bagian dari kalian?” tanya Orihime datar.
Ulquiorra menatap kaget, namun sedetik kemudian kembali seperti biasa, datar. Ia menjawab pelan, “Sampai kami mencapai tujuan kami.”
Sunyi lagi. Mereka tak saling pandang. Ulquiorra kembali menatap dinding di sampingnya, dan Orihime menatap ke karpet di bawah kakinya.
“Apa setelah itu aku tak dibutuhkan lagi? Lalu apa yang akan kalian lakukan padaku?” tanya Orihime ragu-ragu, menatap kaki Ulquiorra.
Ulquiorra mengembalikan pandangannya ke gadis di hadapannya. Ia tak tahu harus menjawab bagaimana. Sesungguhnya, ia bisa saja berkata datar seperti biasanya, mengatakan bahwa mereka akan membunuhnya, atau mengatakan bahwa tentu saja tidak karena ia telah menjadi bagian dari mereka. Tetapi, entah kenapa saat ini, Ulquiorra tak bisa berkata apapun. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia tak tahu apa yang akan terjadi, karena segalanya telah diatur oleh Aizen tanpa ada yang tahu.
Saat itu, pandangan mereka bertemu. Ulquiorra melihatnya, pandangan polos Orihime. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia merasakan perasaan aneh. Seolah… apapun yang terjadi nantinya, ia tak ingin gadis dihadapannya… mati terbunuh. Seolah… ia ingin melindungi gadis dihadapannya.
“Kau… saat ini telah menjadi bagian dari kami. Namun, ketika saat itu tiba, Aizen-sama yang akan menentukan kedudukanmu.” Jawab Ulquiorra pelan.
Orihime terdiam, lalu membalikkan tubuhnya kembali, menatap langit gelap Las Noches.
“Aku mengerti,” sahut Orihime datar.
Ulquiorra menatapnya. Perasaan di hatinya semakin aneh. Dan sebelum ia menyadarinya, ia berdiri tepat di belakang gadis itu, dan membelai lembut rambut kemerahan miliknya.
Orihime tersentak. Tubuhnya bergetar pelan. Keadaannya kembali ke beberapa saat lalu, ketika ia mendengar Ulquiorra memanggilnya “Hime”. Jantungnya berdebar keras.
“U-Ulquiorra-san?” tanya Orihime gugup, merasakan jemari laki-laki itu menyisir lembut rambut panjangnya.
Ulquiorra tak mengerti apapun. Sebelum ia sempat memikirkannya, tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Jemarinya membelai lembut rambut Orihime, dan sekali lagi, tanpa ia sadari, ia membiarkan dagunya bersandar di bahu Orihime.
“Aku tak tahu apa yang akan terjadi padamu nanti… Namun, kau harus tahu… aku… tak akan membiarkan hal buruk menimpamu. Aku akan melindungimu… Hime.” Ulquiorra berbisik pelan di telinga Orihime.
Orihime membalikkan tubuhnya pelan, memberanikan diri untuk memandang wajah Ulquiorra yang begitu dekat di depannya.
Ulquiorra tak lagi bertanya apapun pada dirinya sendiri. Ia merasakan perasaan aneh di dirinya, dan memutuskan bahwa ia menyukai perasaan itu. Ia juga menyadari bahwa perasaan itu muncul, apabila ia berada di dekat Orihime.
“Ke-kenapa kau memanggilku… Hime?” tanya Orihime gugup.
Arrancarnomor empat itu terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia bahkan baru menyadari bahwa ia memanggil gadis di depannya dengan sebutan “Hime”. Namun tiba-tiba ia tersenyum, menyadari bahwa mungkin nama panggilan itulah yang menyebabkan gadis di depannya bersikap aneh tadi. Mungkinkah Orihime merasakan perasaan aneh yang sama dengannya?
Ulquiorra tersenyum kecil. Ia tak tahu apa yang menyebabkan semua ini terjadi. Ia hanya tahu bahwa ia sungguh-sungguh menyukai semua ini.
“Karena kau… terlihat seperti Hime (princess) bagiku…” jawab Ulquiorra pelan.
Seperti dituntun insting, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke hadapan Orihime. Orihime tanpa sadar memejamkan matanya pelan.
Suara badai pasir terdengar bergemuruh di luar. Langit tetap gelap, namun bulan sabit bersinar indah.
Dan Ulquiorra mengecup bibir Orihime pelan.
Sedetik kemudian Ulquiorra kembali menjauh. Ia membalikkan badannya. Orihime membuka mata, jantungnya berdebar begitu keras. Ia menatap karpet di bawah kakinya.
Ulquiorra lalu melangkah pelan keluar tanpa berkata apapun. Namun ketika sampai tepat di depan pintu, ia melirik singkat kepada Orihime yang masih memandang ke bawah kakinya.
“Oyasuminasai, Hime…” sahutnya pelan sambil melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.
Orihime berjalan pelan dan menjatuhkan diri ke sofa besar berwarna putih. Ia merebahkan diri, memandang ke langit-langit kamar yang disediakan Aizen untuknya. Jantung gadis itu masih berdebar keras. Orihime tak tahu apa yang baru saja terjadi. Ia tak mengerti.
Ulquiorra…Arrancar kepercayaan Aizen yang telah membawanya ke Las Noches,Arrancar yang selalu mengawasinya, Arrancar yang pernah ditampar olehnya, Arrancar yang telah hampir membunuh Ichigo, dan… Arrancar yang telah menciumnya malam ini… ada apa dengannya? Ia tak mengerti dengan semua itu. Apalagi dengan perasaannya sendiri.
Namun, entah darimana asalnya, tiba-tiba saja semua kenangan tentang Ichigo berkelebat di benaknya. Semua tentang Ichigo muncul begitu saja. Begitu tiba-tiba, begitu jelas, sehingga tanpa sadar air mata sudah menetes perlahan di wajahnya.
“Kurosaki-kun…” isaknya pelan.
Ya, Orihime baru saja menyadari, ia begitu mencintai Ichigo. Ichigo telah mengubah hidupnya… dan ia begitu mencintainya. Namun, ichigo sepertinya mencintai Rukia… hal itu telah membuatnya begitu kecewa. Sehingga dengan mudahnya ia kini ada di tempat ini. Terkurung dalam istana Aizen.
Orihime menyadari, Ulquiorra benar. Ia menyesal. Ia kecewa. Kenapa mereka tak bisa menyelamatkannya? Kenapa Ichigo tak bisa menyelamatkannya? Padahal… waktu itu Ichigo dapat menyelamatkan Rukia… Ichigo menguasai Bankai hanya dalam waktu singkat demi Rukia… Kenapa kini Ichigo tak bisa menyelamatkannya? Apakah karena Rukia lebih berarti daripada dirinya untuk Ichigo??
Orihime menangis. Ia menyadari, bahwa selama ini ia pembohong. Ia membohongi semua orang… ia berbohong pada Ichigo, pada Rukia, pada Tatsuki, bahkan pada dirinya sendiri. Ia begitu jahat. Ia berbohong dan tak percaya pada teman-temannya sendiri, bahkan ketika mereka nyaris tewas karena berusaha menyelamatkan dirinya.
Sesaat kemudian Orihime bangkit dari sofa. Ia berusaha mengusap air matanya. Ia berdiri, melangkah menuju jendela. Dan menatap pemandangan di hadapannya.
Keadaan di luar masih tak berubah. Gelap, dan dipenuhi pasir. Orihime menatap datar. Air mata kembali mengalir di wajahnya. Ia merasa tak ada lagi tempat untuknya. Ia telah membohongi semua teman-temannya, ia pengkhianat. Soul Society menganggapnya pengkhianat. Las Noches dan Aizen mungkin sekarang membutuhkannya, tapi suatu saat ia yakin ia akan mengkhianati mereka. Sementara… Ichigo, tak peduli padanya… Ichigo akan lebih memikirkan keadaan Rukia daripada dirinya.
Orihime mencengkram erat jubah putihnya. Ia sungguh tak tahu harus berbuat apa. Hatinya telah hancur. Hidup pun mungkin tak lagi berguna. Hidupnya sama sekali tak berguna bagi siapapun.
Seketika badai pasir bergemuruh amat keras. Orihime menatap ke jeruji jendela dan pasir yang kini memenuhi pemandangan di hadapannya. Tiba-tiba saja ia teringat tentangnya…, Ulquiorra.
Orihime memejamkan matanya pelan. Membiarkan butiran air mata menetes melewati pipinya. Ia merasa seolah kembali ke waktu tadi.
“Aku akan melindungimu… Hime…”
Suara Ulquiorra saat itu begitu lembut… menentramkan hatinya. Badai pasir kini tak bergemuruh lagi. Suasana menjadi begitu senyap. Orihime membuka matanya. Menatap keluar jendela. Mendapati bulan sabit kekuningan melengkung indah menemani langit yang gelap.
Orihime tersenyum. Ia menyentuhkan tangannya ke bibirnya, lalu membentangkan kelima jarinya di depan wajahnya, dan melihat bulan itu dari kisi-kisi jemarinya. Ia kini menyadari, ia tak sendiri lagi. Masih ada seseorang yang mempedulikannya. Ia percaya, bahwa ia masih dibutuhkan. Dan ia menyadari, apapun yang dapat terjadi nanti, Ulquiorra akan melindunginya. Untuk itu, ia akan melakukan apapun untuk dapat bersama lebih lama dengan Ulquiorra.
“Aizen-sama… aku akan melakukan segalanya untukmu.” Orihime berbisik pelan sambil menatap tajam bulan sabit yang menghiasi langit gelap Las Noches.
.
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »